Namanya
Vincent. Vincent siapa banyak orang tidak tahu, termasuk si Vincent itu
sendiri. Hanya Vincent, begitu ia memeperkenalkan dirinya. Meski identitas namanya tidak terlalu jelas,
namun popularitas Vincent di kalangan orang Blatat,Maumere cukup besar, mungkin lebih besar daripada
para menteri kabinetnya mbak Mega. Hampir dalam setiap percakapan yang berbau
humanis (maaf: humoris), Vincent sering menjadi referensi utama. Ia terkenal di
kalangan warga Blatat bukan lantaran karena ia adalah seorang caleg nomor satu
dari suatu parpol tertentu yang akan bersaing dengan pak Melky. Atau bukan juga
karena ia berambisi untuk merebut kursi kepala desa, yang menjadi impian
sebagian besar orang tua dan muda di Blatat. Justru sebaliknya, Vincent
hanyalah seorang pemuda sederhana. Umurnya sekitar 28 tahun. Pendidikannya
tidak tinggi, hanya jebolan kelas satu SD. Ia mengerti bahasa Indonesia, namun
hanya dapat berbicara dalam bahasa Maumere. Vincent adalah orang Blatat sejati, orang gunung
totok yang tidak mau peduli dengan berbagai persoalan ipoleksosbudhankamnas
yang terjadi di sekelilingnya. Ia sama sekali tidak berambisi untuk merebut
kedudukan di institusi politik maupun religius. Cita-citanya hanya satu: pergi
ke kota ujung pandang. Hanya masalahnya, menurut Vincent, belum ada uang tiket
meski uang kapalnya sudah tersedia…
Itulah figur seorang Vincent,
warga Blatat sejati yang saya temui dalam liburan selama satu minggu. Figur ini
cukup menarik perhatian saya karena ia lain dari yang lain, tidak seperti warga
kebanyakan. Mungkin bagi orang yang belum mengenalnya, sosok Vinsen ini bisa menimbulkan
ketakutan tersendiri. Bagi orang asing yang pertama kali dan tidak mengerti
satu kata pun bahasa Maumere, bisa dijamin Vinsen akan bungkam seribu bahasa,
tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bisu? Ataukah seorang xenophobia? Bukan
kedua-duanya. Vinsen justru paling senang berkenalan dengan pendatang baru.
Apalagi bila orang baru itu masih dilengkapi lagi dengan embel-embel seperti
romo, suster, atau frater. Dua alasan yang membuatnya bak orang tuli adalah
pertama, Vinsen itu orang yang pemalu; dan kedua, seperti yang sudah
disebutkan tadi: Vinsen tidak tahu berbicara dalam bahasa Indonesia meski ia
mengerti secara baik. Bagi orang luar maumere hanya ada satu cara untuk
bertukar pikiran dengannya, yaitu belajar bahasa setempat.
Menurut beberapa warga, perkembangan pikiran/otak Vincent agak terlambat. Itu sebabnya ia tidak melanjutkan sekolah dan hanya stop di bangku kelas satu SD. Meski demikian bukan berarti Vinsent tidak berguna. Justru Vinsent sangat berguna dan rajin. Bahkan karena amat rajin, pastor paroki Ili pernah berkata: “….kalau saja ada sepuluh orang seperti Vinsent di Blatat maka Blatat akan sangat maju.” Saya sendiri juga yakin liburan dan kegiatan animasi misi yang saya jalankan tidak akan berjalan lancar seandainya Vinsent tidak ada. Dalam kesederhanaanya Vinsent banyak membantu memperlancar setiap kegiatan. Dengan antusias dan penuh semangat, Vincent senantiasa setia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kurang diminati banyak orang. Apapun pekerjaannya, Vincent stand by.
Pernah pada suatu kali, kegiatan doa bersama dan animasi sedikit tertunda karena sebagian besar umat belum hadir pada waktu yang disepakati. Tanpa dikomandoi oleh ketua lingkungan, Vincent bergerak mulai dari rumah paling ujung bawah sampai rumah paling ujung atas sambil berteriak dalam bahasa Maumere, yang kalau dalam bahasa Indonesianya demikian: ” Kalian ini kalau mau terima beras raskin mata seperti mau keluar…tapi kalau mau doa tidak.” Umat tidak marah mendengar kata-kata Vincent. Mereka malah merasa lucu dan menjadi sadar untuk segera bergegas ke tempat pertemuan. Akibatnya pada malam itu gedung CU tidak mampu menampung seluruh umat yang hadir sehingga sebagiannya terpaksa berdiri di luar. Saya berpikir bagaimana seandainya kalau seorang Vincent tidak ada.
Terima kasih Vincent, warga Blatat senantiasa mengasihimu.
Menurut beberapa warga, perkembangan pikiran/otak Vincent agak terlambat. Itu sebabnya ia tidak melanjutkan sekolah dan hanya stop di bangku kelas satu SD. Meski demikian bukan berarti Vinsent tidak berguna. Justru Vinsent sangat berguna dan rajin. Bahkan karena amat rajin, pastor paroki Ili pernah berkata: “….kalau saja ada sepuluh orang seperti Vinsent di Blatat maka Blatat akan sangat maju.” Saya sendiri juga yakin liburan dan kegiatan animasi misi yang saya jalankan tidak akan berjalan lancar seandainya Vinsent tidak ada. Dalam kesederhanaanya Vinsent banyak membantu memperlancar setiap kegiatan. Dengan antusias dan penuh semangat, Vincent senantiasa setia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kurang diminati banyak orang. Apapun pekerjaannya, Vincent stand by.
Pernah pada suatu kali, kegiatan doa bersama dan animasi sedikit tertunda karena sebagian besar umat belum hadir pada waktu yang disepakati. Tanpa dikomandoi oleh ketua lingkungan, Vincent bergerak mulai dari rumah paling ujung bawah sampai rumah paling ujung atas sambil berteriak dalam bahasa Maumere, yang kalau dalam bahasa Indonesianya demikian: ” Kalian ini kalau mau terima beras raskin mata seperti mau keluar…tapi kalau mau doa tidak.” Umat tidak marah mendengar kata-kata Vincent. Mereka malah merasa lucu dan menjadi sadar untuk segera bergegas ke tempat pertemuan. Akibatnya pada malam itu gedung CU tidak mampu menampung seluruh umat yang hadir sehingga sebagiannya terpaksa berdiri di luar. Saya berpikir bagaimana seandainya kalau seorang Vincent tidak ada.
Terima kasih Vincent, warga Blatat senantiasa mengasihimu.
No comments:
Post a Comment