Saturday, December 5, 2015

Vincent of Blatat



Namanya Vincent. Vincent siapa banyak orang tidak tahu, termasuk si Vincent itu sendiri. Hanya Vincent, begitu ia memeperkenalkan dirinya.  Meski identitas namanya tidak terlalu jelas, namun popularitas Vincent di kalangan orang Blatat,Maumere cukup besar, mungkin lebih besar daripada para menteri kabinetnya mbak Mega. Hampir dalam setiap percakapan yang berbau humanis (maaf: humoris), Vincent sering menjadi referensi utama. Ia terkenal di kalangan warga Blatat bukan lantaran karena ia adalah seorang caleg nomor satu dari suatu parpol tertentu yang akan bersaing dengan pak Melky. Atau bukan juga karena ia berambisi untuk merebut kursi kepala desa, yang menjadi impian sebagian besar orang tua dan muda di Blatat. Justru sebaliknya, Vincent hanyalah seorang pemuda sederhana. Umurnya sekitar 28 tahun. Pendidikannya tidak tinggi, hanya jebolan kelas satu SD. Ia mengerti bahasa Indonesia, namun hanya dapat berbicara dalam bahasa Maumere. Vincent  adalah orang Blatat sejati, orang gunung totok yang tidak mau peduli dengan berbagai persoalan ipoleksosbudhankamnas yang terjadi di sekelilingnya. Ia sama sekali tidak berambisi untuk merebut kedudukan di institusi politik maupun religius. Cita-citanya hanya satu: pergi ke kota ujung pandang. Hanya masalahnya, menurut Vincent, belum ada uang tiket meski uang kapalnya sudah tersedia…

Itulah figur seorang Vincent, warga Blatat sejati yang saya temui dalam liburan selama satu minggu. Figur ini cukup menarik perhatian saya karena ia lain dari yang lain, tidak seperti warga kebanyakan. Mungkin bagi orang yang belum mengenalnya, sosok Vinsen ini bisa menimbulkan ketakutan tersendiri. Bagi orang asing yang pertama kali dan tidak mengerti satu kata pun bahasa Maumere, bisa dijamin Vinsen akan bungkam seribu bahasa, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bisu? Ataukah seorang xenophobia? Bukan kedua-duanya. Vinsen justru paling senang berkenalan dengan pendatang baru. Apalagi bila orang baru itu masih dilengkapi lagi dengan embel-embel seperti romo, suster, atau frater. Dua alasan yang membuatnya bak orang tuli adalah pertama, Vinsen itu orang yang pemalu; dan kedua, seperti yang sudah disebutkan tadi: Vinsen tidak tahu berbicara dalam bahasa Indonesia meski ia mengerti secara baik. Bagi orang luar maumere hanya ada satu cara untuk bertukar pikiran dengannya, yaitu belajar bahasa setempat. 
Menurut beberapa warga, perkembangan pikiran/otak Vincent agak terlambat. Itu sebabnya ia tidak melanjutkan sekolah dan hanya stop di bangku kelas satu SD. Meski demikian bukan berarti Vinsent tidak berguna. Justru Vinsent sangat berguna dan rajin. Bahkan karena amat rajin, pastor paroki Ili pernah berkata: “….kalau saja ada sepuluh orang seperti Vinsent di Blatat maka Blatat akan sangat maju.” Saya sendiri juga yakin liburan dan kegiatan animasi misi yang saya jalankan tidak akan berjalan lancar seandainya Vinsent tidak ada. Dalam kesederhanaanya Vinsent banyak membantu memperlancar setiap kegiatan. Dengan antusias dan penuh semangat, Vincent senantiasa setia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kurang diminati banyak orang. Apapun pekerjaannya, Vincent stand by
Pernah pada suatu kali, kegiatan doa bersama dan animasi sedikit tertunda karena sebagian besar umat belum hadir pada waktu yang disepakati. Tanpa dikomandoi oleh ketua lingkungan, Vincent bergerak mulai dari rumah paling ujung  bawah sampai rumah paling ujung atas sambil berteriak dalam bahasa Maumere, yang kalau dalam bahasa Indonesianya demikian: ” Kalian ini kalau mau terima beras raskin mata seperti mau keluar…tapi kalau mau doa tidak.” Umat tidak marah mendengar kata-kata Vincent. Mereka malah merasa lucu dan menjadi sadar untuk segera bergegas ke tempat pertemuan. Akibatnya pada malam itu gedung CU tidak mampu menampung seluruh umat yang hadir sehingga sebagiannya terpaksa berdiri di luar. Saya berpikir bagaimana seandainya kalau seorang Vincent tidak ada. 
Terima kasih Vincent, warga Blatat senantiasa mengasihimu.

No comments:

Post a Comment