Pisau cukur. Semua orang tentu tahu apa yang dinamakan pisau
cukur. Apalagi bagi kaum laki-laki
dewasa yang selalu memperhatikan kemulusan dagunya dari rambut-rambut yang
tidak diinginkan. Pisau cukur menjadi mustika andalan untuk senantiasa
menampilkan imej bersih, rapih dan terawat. Tidak heran muncul berbagi model
dan merek pisau cukur yang bertebaran di pasaran, mulai dari merek lokal sampai
merek-merek impor. Ada pisau cukur yang elektrik, ada juga yang manual. Ada
yang bermata satu, dua, bahkan ada pula yang bermata tiga. Intinya, semakin
banyak mata cukur tersebut, maka semakin ampuh pula kemampuannya mengikis
rambut-rambut yang dirasa mengganggu keindahan tersebut. Mata pisau pertama
mengikis bersih, mata pisau menjadikannya lebih bersih, demikian kira –kira
bunyi salah satu iklan pisau cukur yang sering muncul di televisi.
Pisau cukur Ockham, atau yang dalam bahasa Inggrisnya
dibaptis dengan nama Ockham’ Razor, bukanlah jenis pisau cukur keluaran terbaru
hasil rancangan para ahli di Silicon Valey atau CERN. Pisau cukur ini mengambil
bentuk sebagai sebuah prinsip filsafat. Nama Ockham yang menjadi merek dagang
pisau cukur tersebut berasal dari penemunya William dari Ockham, seorang
biarawan dari Ordo Fransiskan di Inggris yang hidup pada tahun 1285-1347.
Sebagai sebuah prinsip yang dapat diformulasikan dalam bentuk kalimat, Pisau
Cukur Ockham berbunyi demikian: “Pluralitas non est ponenda
sine necessitate (Plurality should not be posited without necessity)”. Atau
bisa diekspresikan juga sebagai: “entities
are not to be multiplied beyond necessity”. Terjemahan bebasnya kira-kira
demikian: entitas tidak seharusnya diperbanyak melampaui yang apa yang
seperlunya. Di sini, bro William mau menekankan kesederhanaan dalam menentukan
kebenaran sebuah teori. Praktis penerapan di lapangan yaitu bila ditemukan dua atau lebih teori yang berbeda
tentang sesuatu (entitas) yang sama, maka pilihlah yang teori yang
penjelasannya paling sederhana. Atau, bila kita hendak membangun sebuah teori
tentang sesuatu entitas maka waspdalah untuk tidak memasukan hal-hal (hipotesis)
yang tidak pasti atau tidak perlu (unnecessity
dan beyond necessity) dalam teori
tentang sesuatu tersebut. Intinya,just keep it simple... Atau, dalam bahasa
dunia perpisaucukuran: cukurlah apa yang dirasa tidak perlu dan mengganggu
keindahan (kebenaran).
Pisau cukur yang baik tentunya harus bisa memotong secara
tepat mana rambut di wajah yang perlu dipotong dan mana yang tidak perlu. Tidak
semua rambut perlu dipotong karena alih-alih menambah keindahan, yang terjadi malah
merusak keindahan (bukannya membuatnya semakin benar, malah menjadi lebih tidak
benar). Bro William sendiri tidak menjelaskan secara mendetail (entitas) apa
yang masuk dalam kategori perlu (necessity) dan tidak perlu (unnecessity dan
beyond neccesity) tersebut. Dari manakah kita bisa yakin bahwa sesuatu itu
perlu atau tidak perlu ketika sesuatu itu tidak jelas bagi kita. Kalau hanya
berdasarkan anggapan subyektif semata, bahwa suatu hal perlu dan hal lainnya
tidak perlu, maka yang akan lahir kemudian adalah sebuah teori yang
relativistis. Untuk hal ini, tentunya kembali kepada kejelian kita
masing-masing untuk menangkap apa yang penting dan tidak penting dengan
berpegang pada prinsip alasan yang cukup (sufficient reasons). Melalui prinsip
alasan yang cukup kita bertanya pada diri sendiri pentingkah suatu hipotesis
kita masukkan. Kalau penting, cukup tidak dasar atau alasannya. Kalau dirasa
tidak cukup alasannya, ya dibuang saja hipotesis tersebut.
Selain berdasar prinsip alasan yang cukup, setidaknya Bro
William mengakui tiga sumber pengetahuan untuk menentukan dasar keberadaan sesuatu
sehingga dapat membantu untuk menentukan mana yang perlu dan tidak perlu. Ketiga
hal itu adalah apabila keberadaan sesuatu itu jelas melalui dirinya sendiri
(self evident), atau diketahui berdasarkan pengalaman (known by experience),
dan atau bila dinyatakan dengan otoritas Kitab Suci. Tiga hal inilah, selain
sufficient reasons, yang bisa kita jadikan dasar membangun teori yang benar dan
tentu saja simpel...
Terlepas dari suka tidaknya kita menggunakan pisau cukur
Ockham ini, setidaknya moral of the
story adalah bahwa jangan membuat kompleks apa yang sebenarnya
sederhana. Mungkin hiruk pikuk kondisi negeri ini yang penuh dengan pelbagai permasalahan
bisa kita selesaikan secepatnya secara obyektif. Terkadang apa yang sudah jelas
(evident) akhirnya menjadi tidak jelas karena ada begitu banyak tarik ulur dan
ditunggangi dengan macam-macam kepentingan entah itu politis, ekonomis, ataupun
pencitraan-pencitraan yang sesungguhnya tidak penting untuk masyarakat banyak. Selamat
mencukur...
No comments:
Post a Comment