Saturday, December 5, 2015

Pisau Cukur Ockham



Pisau cukur. Semua orang tentu tahu apa yang dinamakan pisau cukur. Apalagi  bagi kaum laki-laki dewasa yang selalu memperhatikan kemulusan dagunya dari rambut-rambut yang tidak diinginkan. Pisau cukur menjadi mustika andalan untuk senantiasa menampilkan imej bersih, rapih dan terawat. Tidak heran muncul berbagi model dan merek pisau cukur yang bertebaran di pasaran, mulai dari merek lokal sampai merek-merek impor. Ada pisau cukur yang elektrik, ada juga yang manual. Ada yang bermata satu, dua, bahkan ada pula yang bermata tiga. Intinya, semakin banyak mata cukur tersebut, maka semakin ampuh pula kemampuannya mengikis rambut-rambut yang dirasa mengganggu keindahan tersebut. Mata pisau pertama mengikis bersih, mata pisau menjadikannya lebih bersih, demikian kira –kira bunyi salah satu iklan pisau cukur yang sering muncul di televisi.

Pisau cukur Ockham, atau yang dalam bahasa Inggrisnya dibaptis dengan nama Ockham’ Razor, bukanlah jenis pisau cukur keluaran terbaru hasil rancangan para ahli di Silicon Valey atau CERN. Pisau cukur ini mengambil bentuk sebagai sebuah prinsip filsafat. Nama Ockham yang menjadi merek dagang pisau cukur tersebut berasal dari penemunya William dari Ockham, seorang biarawan dari Ordo Fransiskan di Inggris yang hidup pada tahun 1285-1347. 

Sebagai sebuah prinsip yang dapat diformulasikan dalam bentuk kalimat, Pisau Cukur Ockham berbunyi demikian: “Pluralitas non est ponenda sine necessitate (Plurality should not be posited without necessity)”. Atau bisa diekspresikan juga sebagai: “entities are not to be multiplied beyond necessity”. Terjemahan bebasnya kira-kira demikian: entitas tidak seharusnya diperbanyak melampaui yang apa yang seperlunya. Di sini, bro William mau menekankan kesederhanaan dalam menentukan kebenaran sebuah teori. Praktis penerapan di lapangan yaitu  bila ditemukan dua atau lebih teori yang berbeda tentang sesuatu (entitas) yang sama, maka pilihlah yang teori yang penjelasannya paling sederhana. Atau, bila kita hendak membangun sebuah teori tentang sesuatu entitas maka waspdalah untuk tidak memasukan hal-hal (hipotesis) yang tidak pasti atau tidak perlu (unnecessity dan beyond necessity) dalam teori tentang sesuatu tersebut. Intinya,just keep it simple... Atau, dalam bahasa dunia perpisaucukuran: cukurlah apa yang dirasa tidak perlu dan mengganggu keindahan (kebenaran). 

Pisau cukur yang baik tentunya harus bisa memotong secara tepat mana rambut di wajah yang perlu dipotong dan mana yang tidak perlu. Tidak semua rambut perlu dipotong karena alih-alih menambah keindahan, yang terjadi malah merusak keindahan (bukannya membuatnya semakin benar, malah menjadi lebih tidak benar). Bro William sendiri tidak menjelaskan secara mendetail (entitas) apa yang masuk dalam kategori perlu (necessity) dan tidak perlu (unnecessity dan beyond neccesity) tersebut. Dari manakah kita bisa yakin bahwa sesuatu itu perlu atau tidak perlu ketika sesuatu itu tidak jelas bagi kita. Kalau hanya berdasarkan anggapan subyektif semata, bahwa suatu hal perlu dan hal lainnya tidak perlu, maka yang akan lahir kemudian adalah sebuah teori yang relativistis. Untuk hal ini, tentunya kembali kepada kejelian kita masing-masing untuk menangkap apa yang penting dan tidak penting dengan berpegang pada prinsip alasan yang cukup (sufficient reasons). Melalui prinsip alasan yang cukup kita bertanya pada diri sendiri pentingkah suatu hipotesis kita masukkan. Kalau penting, cukup tidak dasar atau alasannya. Kalau dirasa tidak cukup alasannya, ya dibuang saja hipotesis tersebut.
Selain berdasar prinsip alasan yang cukup, setidaknya Bro William mengakui tiga sumber pengetahuan untuk menentukan dasar keberadaan sesuatu sehingga dapat membantu untuk menentukan mana yang perlu dan tidak perlu. Ketiga hal itu adalah apabila keberadaan sesuatu itu jelas melalui dirinya sendiri (self evident), atau diketahui berdasarkan pengalaman (known by experience), dan atau bila dinyatakan dengan otoritas Kitab Suci. Tiga hal inilah, selain sufficient reasons, yang bisa kita jadikan dasar membangun teori yang benar dan tentu saja simpel...

Terlepas dari suka tidaknya kita menggunakan pisau cukur Ockham ini, setidaknya moral of the  story adalah bahwa jangan membuat kompleks apa yang sebenarnya sederhana. Mungkin hiruk pikuk kondisi negeri ini yang penuh dengan pelbagai permasalahan bisa kita selesaikan secepatnya secara obyektif. Terkadang apa yang sudah jelas (evident) akhirnya menjadi tidak jelas karena ada begitu banyak tarik ulur dan ditunggangi dengan macam-macam kepentingan entah itu politis, ekonomis, ataupun pencitraan-pencitraan yang sesungguhnya tidak penting untuk masyarakat banyak. Selamat mencukur...

No comments:

Post a Comment