Saturday, December 5, 2015

The Wolf shall dwell with the Lamb...

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan diam di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.  Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama diam, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.   Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.   (Yesaya 11:6-8)
====

Anda tahu hewan bernama serigala? Anda juga tahukan hewan bernama lembu? Yang satu terkenal sebagai binatang buas yang siap memangsa apa saja, sementara yang lain binatang yang boleh dikatakan tidak mempunyai naluri membunuh apa. Yang satu selalu mengejar dan membantai, sementara yang lain hanya bisa berlari dan bersembunyi. Yang satu punya naluri menguasai, yang lain hanya punya naluri mengalah... Bagaimanakah kalau kedua hewan ini diam bersama? Mungkinkah itu terjadi?  

Serigala dan lembu di sini bisa menjadi analogi yang tepat bagi dua karakter dasar kelompok manusia. Yang pertama mewakili karakter atau lebih tepatnya naluri dasar kelompok mayoritas, sementara yang kedua mewakili kelompok minoritas. Tentu tidak bisa dikatakan begitu saja bahwa kelompok mayoritas ketika melihat atau bertemu kelompok minoritas akan langsung mengejar dan membantainya. Mungkin tidak akan kita temui lagi yang seperti itu. Tetapi yang mau diandaikan di sini adalah nalurinya, naluri serigala dan naluri lembu. Bagi manusia makhluk rasional, naluri selalu bisa ditekan atau dikalahkan dengan rasio. Tetapi terkadang, secara spontan atau bawah sadar, nalurilah yang menguasai prilaku hidup manusia. Untuk lebih jelas melihat perbandingan atau analogi ini mari kita pahami terlebih dahulu naluri serigala dan naluri domba tersebut.

Serigala sang pemangsa dan Lembu yang termangsa...
Seperti yang dikatakan di atas, serigala adalah hewan yang mempunyai naluri memangsa dan membunuh. Melihat hewan lemah dan tambuh rasa-rasanya tidak mungkin bagi serigala untuk tinggal diam saja, sebab itu sama saja dengan melawan kodrat serigalanya. Tidak peduli meski serigala tersebut baru selesai menyantap mangsa yang lain. Pokoknya, selama ada lembu atau hewan lemah lain di hadapannya, ya diterkam saja dulu. Soal dagingnya akan dimakan atau tidak itu urusan kemudian. Gigi serigala pasti akan terasa asam kalau taring-taringnya belum mencengkeram dalam-dalam lemak lembu tambun yang ada di hadapannya; gemas kalau lidah belum mengecap nikmatnya darah segar yang mengalir langsung dari urat leher si lembu. Mana tahan....,itulah naluri hewan pemangsa bernama serigala.

Bila masih ingin hidup, maka ketika bertemu dengan serigala lari dan menghindar adalah satu-satunya pilihan buat lembu. Dalam tempo sepersekian detik setelah melihat serigala, lembu akan berusaha lari secepatnya. Tidak ada waktu untuk berpikir (sebab memang tidak bisa berpikir) sekedar mencari cara lain atau bersembunyi untuk menghindari serigala. Kehadiran serigala menjadi pratanda akhir sejarah pengembaraanya di padang rumput hijau. Tidak ada dalam kamus dunia lembu kalau bertemu dengan serigala mereka masih bisa bernegosiasi agar tidak dimangsa. Naluri lembu mengajarkan mereka untuk selalu pasif, tidak pernah membuka peluang untuk sekedar bertarung mempertahankan hidup, apalagi mau mencari gara-gara dengan mendatangi habitat serigala.  Kalaupun ada, maka itu hanya ada dalam dunia dongeng penghantar tidur manusia.

Kelompok Mayoritas dan Minoritas
Serigala sang pemangsa mengisahkan banyak tentang naluri kelompok mayoritas, sebagaimana juga lembu mengisahkan naluri kelompok minoritas.  Ketika serigala hanya berada bersama kawanannya maka semuanya akan baik- baik saja. Ketika lembu hanya bersama lembu maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketika seseorang teridentifikasi ke dalam sebuah kelompok mayoritas ataupun minoritas tanpa kehadiran kelompok lain yang menjadi minoritas atau mayoritas, maka semuanya akan terlihat aman. Namun bagaimana ketika serigala bertemu lembu? Bagaimana ketika kelompok mayoritas merasa terganggu kepentingannya oleh karena kehadiran sebuah kelompok minoritas? Bagaimana tatkala kelompok minoritas tidak punya pilihan lain kecuali berada di tengah-tengah kelompok mayoritas? 

Hidup dalam dunia pluralistik tentu tidak bisa menafikan kehadiran kelompok mayoritas dan minoritas ini. Berbeda dari serigala dan lembu, naluri mayoritas dan minoritas hadir secara bersama-sama dalam diri manusia. Ketika seseorang teridentifikasi dengan kelompok mayoritas, maka naluri mayoritaslah yang muncul dan menguat. Sebaliknya ketika merasa dirinya sebagai yang minoritas, maka naluri mayoritaslah yang muncul dan nampak. Rasanya tidak sulit membedakan dua kelompok ini. Yang satu selalu merasa unggul atas yang lain, sementara yang lain selalu merasa kalah. Kelompok mayoritas merasa seolah-olah dunia ini milik mereka sendiri. Apa yang terjadi semestinya mengikuti kehendak mereka, yang minoritas harus tunduk dan patuh. Terkadang, bila yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak mereka, maka kekerasan baik secara verbal maupun fisik dijadikan sebagai jalan keluar. Bila ada anggotanya yang berpikir lain, maka solidaritas kelompok sering dijadikan alat propaganda bagi anggota-anggotanya untuk bersatu suara. Demikian juga dengan kelompok minoritas (lembu). Perasaan inferior dan rendah dirinya menguat ketika berada di antara kelompok mayoritas. Dunia tempat tinggalnya (lebenswelt) terasa hanya sebagai pinjaman. Bila mau terus survive, Ia harus pintar-pintar menarik hati yang mayoritas, entah itu dengan cara mengalah ataupun dengan menyembunyikan dan mengorbankan prinsip hidup, keyakinan ataupun gagasannya yang original. Citra diri yang sering ditampilkan adalah citra diri yang damai, penurut, pengertian. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada perasaan ingin memberontak, serta mengekspresikan dirinya secara bebas tanpa merasa takut atau kikuk di hadapan mata kaum mayoritas. Anggota kelompok yang mau berani bersuara harus berpikir dua kali agar tidak membawa dampak buruk bagi kelompok minoritasnya.

Selain ada naluri, ada juga prasangka baik pada kelompok mayoritas maupun minoritas. Prasangka dapat diartikan sebagai predisposisi untuk memberikan penilaian yang diskriminatif terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Menurut analisis transaksional, hal ini terjadi karena cara hidup yang kita peroleh dari pengalaman sejak kecil atau masa lalu menjadikan kita tidak dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas. Penilaian diskriminatif mayoritas terhadap minoritas umumnya lahir dari ketakutan bahwa yang minoritas meskipun kecil bisa menjadi bom waktu yang mengganggu kemapanan kelompoknya. Yang mayoritas sering juga merasa enggan masuk ke dalam yang minoritas karena berprasangka bahwa yang minoritas akan melihatnya sebagai bagian dari kelompok penguasa, penindas, dan sebagainya. Demikian pun yang minoritas mencurigai bahwa yang mayoritas akan selalu berusaha menghancurkan eksistensi kelompoknya, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kelompoknya akan dipandang sebagai keanehan oleh yang mayoritas. Kebaikan dari salah satu kelompok terkadang ditanggapi dengan rasa curiga dan was-was. Embel-embel negatif sering menguat menjadi stigma yang menakutkan.

Ketika Serigala tinggal bersama Lembu...
Serigala hanya dapat diam bersama lembu ketika naluri atau insting keduanya diredam. Serigala bisa diam bersama lembu ketika ia tidak melihat lembu sebagai sumber makanannya tetapi sebagai partner sesama anggota Kingdom animalia. Serigala bisa diam bersama lembu ketika lembu tidak lari dan menjauh ketika serigala datang mendekat. Serigala tidak boleh memangsa hanya karena ia serigala, demikian pun lembu tidak boleh lari hanya karena ia adalah lembu.

Kelompok mayoritas dan minoritas pun bisa mencapai kedamaian yang sesungguhnya bila naluri dasar yang sering hinggap bisa terus dikikis habis, bila rasio diskursif selalu dikedepankan dalam mencapai konsensus bersama. Mayoritas dan minoritas hanya bisa hidup dalam kedamaian yang sesungguhnya bila nilai kemanusiaannya selalu menjadi prioritas pertama dan utama. Juga, paham mayoritas dan minoritas hendaknya juga ditinjau sebagai kuantitas demografis semata dan tidak mengidentikkannya dengan kebenaran. Kebenaran tidak pernah lahir hanya karena banyaknya orang yang meyakininya. Karena itu, perasaan superioritas akibat jumlah yang lebih tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk memaksakan kehendak, apalagi dengan jalan kekerasan.  Demikian juga rasa inferior yang lahir dari jumlah yang sedikit tidak bisa membuat kita pasif atau mengalah dalam mengekspresikan diri secara kreatif. Prasangka atau penilaian diskriminatif terhadap kelompok lain, meski berangkat pengalaman masa silam, merupakan beban sejarah yang harus dievaluasi dan dikritisi berdasarkan konteks dan paradigma berpikir manusia saat itu.

Penggunaan rasio sembari mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran ini jugalah yang bisa membedakan manusia dengan skenario serigala lembu di atas. Memang sulit, bahkan tidak mungkin melihat serigala diam bersama lembu. Serigala diam bersama lembu hanya akan tetap tinggal sebagai sebuah visi tentang dunia binatang yang diwarnai dengan kedamaian, ketika tidak ada binatang yang menjadi predator tingkat pertama, kedua, dan seterusnya sebagaimana dalam pelajaran biologi SD tentang rantai makanan. Namun, untuk manusia yang dikaruniai dengan kemampuan berpikir hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Kedamaian yang sesungguhnya amat mungkin tercapai ketika integritas kita sebagai manusia mengatasi identitas kita sebagai manusia dalam kelompok tertentu. Dengan demikianlah kita tidak mudah terjebak lagi dalam skenario serigala-lembu, dan baru sungguh berhasil hidup sebagai manusia. (Inspirasi dari buku: “The Wolf shall dwell with the Lamb”, karya Eric H.F. Law)

No comments:

Post a Comment