Serigala
akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan diam di samping kambing. Anak
lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil
akan menggiringnya. Lembu dan beruang
akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama diam, sedang singa akan
makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main
dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke
sarang ular beludak.
(Yesaya 11:6-8)
====
Anda tahu hewan bernama serigala? Anda juga
tahukan hewan bernama lembu? Yang satu terkenal sebagai binatang buas yang siap
memangsa apa saja, sementara yang lain binatang yang boleh dikatakan tidak
mempunyai naluri membunuh apa. Yang satu selalu mengejar dan membantai,
sementara yang lain hanya bisa berlari dan bersembunyi. Yang satu punya naluri
menguasai, yang lain hanya punya naluri mengalah... Bagaimanakah kalau kedua
hewan ini diam bersama? Mungkinkah itu terjadi?
Serigala dan lembu di sini bisa menjadi
analogi yang tepat bagi dua karakter dasar kelompok manusia. Yang pertama
mewakili karakter atau lebih tepatnya naluri dasar kelompok mayoritas,
sementara yang kedua mewakili kelompok minoritas. Tentu tidak bisa dikatakan
begitu saja bahwa kelompok mayoritas ketika melihat atau bertemu kelompok
minoritas akan langsung mengejar dan membantainya. Mungkin tidak akan kita
temui lagi yang seperti itu. Tetapi yang mau diandaikan di sini adalah nalurinya,
naluri serigala dan naluri lembu. Bagi manusia makhluk rasional, naluri selalu
bisa ditekan atau dikalahkan dengan rasio. Tetapi terkadang, secara spontan
atau bawah sadar, nalurilah yang menguasai prilaku hidup manusia. Untuk lebih
jelas melihat perbandingan atau analogi ini mari kita pahami terlebih dahulu
naluri serigala dan naluri domba tersebut.
Serigala sang pemangsa dan Lembu yang termangsa...
Seperti yang dikatakan di atas, serigala
adalah hewan yang mempunyai naluri memangsa dan membunuh. Melihat hewan lemah
dan tambuh rasa-rasanya tidak mungkin bagi serigala untuk tinggal diam saja,
sebab itu sama saja dengan melawan kodrat serigalanya. Tidak peduli meski
serigala tersebut baru selesai menyantap mangsa yang lain. Pokoknya, selama ada
lembu atau hewan lemah lain di hadapannya,
ya diterkam saja dulu. Soal dagingnya akan dimakan atau tidak itu urusan
kemudian. Gigi serigala pasti akan terasa asam kalau taring-taringnya belum mencengkeram
dalam-dalam lemak lembu tambun yang ada di hadapannya; gemas kalau lidah belum
mengecap nikmatnya darah segar yang mengalir langsung dari urat leher si lembu.
Mana tahan....,itulah naluri hewan pemangsa bernama serigala.
Bila masih ingin hidup, maka ketika bertemu
dengan serigala lari dan menghindar adalah satu-satunya pilihan buat lembu.
Dalam tempo sepersekian detik setelah melihat serigala, lembu akan berusaha
lari secepatnya. Tidak ada waktu untuk berpikir (sebab memang tidak bisa
berpikir) sekedar mencari cara lain atau bersembunyi untuk menghindari
serigala. Kehadiran serigala menjadi pratanda akhir sejarah pengembaraanya di
padang rumput hijau. Tidak ada dalam kamus dunia lembu kalau bertemu dengan
serigala mereka masih bisa bernegosiasi agar tidak dimangsa. Naluri lembu mengajarkan
mereka untuk selalu pasif, tidak pernah membuka peluang untuk sekedar bertarung
mempertahankan hidup, apalagi mau mencari gara-gara dengan mendatangi habitat
serigala. Kalaupun ada, maka itu hanya
ada dalam dunia dongeng penghantar tidur manusia.
Kelompok
Mayoritas dan Minoritas
Serigala
sang pemangsa mengisahkan banyak tentang naluri kelompok mayoritas, sebagaimana
juga lembu mengisahkan naluri kelompok minoritas. Ketika serigala hanya berada bersama
kawanannya maka semuanya akan baik- baik saja. Ketika lembu hanya bersama lembu
maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketika seseorang teridentifikasi ke
dalam sebuah kelompok mayoritas ataupun minoritas tanpa kehadiran kelompok lain
yang menjadi minoritas atau mayoritas, maka semuanya akan terlihat aman. Namun
bagaimana ketika serigala bertemu lembu? Bagaimana ketika kelompok mayoritas
merasa terganggu kepentingannya oleh karena kehadiran sebuah kelompok
minoritas? Bagaimana tatkala kelompok minoritas tidak punya pilihan lain
kecuali berada di tengah-tengah kelompok mayoritas?
Hidup dalam dunia pluralistik tentu tidak
bisa menafikan kehadiran kelompok mayoritas dan minoritas ini. Berbeda dari
serigala dan lembu, naluri mayoritas dan minoritas hadir secara bersama-sama
dalam diri manusia. Ketika seseorang teridentifikasi dengan kelompok mayoritas,
maka naluri mayoritaslah yang muncul dan menguat. Sebaliknya ketika merasa
dirinya sebagai yang minoritas, maka naluri mayoritaslah yang muncul dan
nampak. Rasanya tidak sulit membedakan dua kelompok ini. Yang satu selalu
merasa unggul atas yang lain, sementara yang lain selalu merasa kalah. Kelompok
mayoritas merasa seolah-olah dunia ini milik mereka sendiri. Apa yang terjadi
semestinya mengikuti kehendak mereka, yang minoritas harus tunduk dan
patuh. Terkadang, bila yang terjadi tidak sesuai dengan
kehendak mereka, maka kekerasan baik secara verbal maupun fisik dijadikan
sebagai jalan keluar. Bila ada anggotanya yang berpikir lain, maka solidaritas
kelompok sering dijadikan alat propaganda bagi anggota-anggotanya untuk bersatu
suara. Demikian juga dengan kelompok minoritas (lembu). Perasaan inferior dan
rendah dirinya menguat ketika berada di antara kelompok mayoritas. Dunia tempat
tinggalnya (lebenswelt) terasa hanya
sebagai pinjaman. Bila mau terus survive,
Ia harus pintar-pintar menarik hati yang mayoritas, entah itu dengan cara
mengalah ataupun dengan menyembunyikan dan mengorbankan prinsip hidup,
keyakinan ataupun gagasannya yang original. Citra diri yang sering ditampilkan
adalah citra diri yang damai, penurut, pengertian. Namun, jauh di lubuk
hatinya, ada perasaan ingin memberontak, serta mengekspresikan dirinya secara
bebas tanpa merasa takut atau kikuk di hadapan mata kaum mayoritas. Anggota
kelompok yang mau berani bersuara harus berpikir dua kali agar tidak membawa
dampak buruk bagi kelompok minoritasnya.
Selain ada naluri, ada juga prasangka baik
pada kelompok mayoritas maupun minoritas. Prasangka dapat diartikan sebagai
predisposisi untuk memberikan penilaian yang diskriminatif terhadap pribadi
atau kelompok tertentu. Menurut analisis transaksional, hal ini terjadi karena
cara hidup yang kita peroleh dari pengalaman sejak kecil atau masa lalu
menjadikan kita tidak dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas. Penilaian
diskriminatif mayoritas terhadap minoritas umumnya lahir dari ketakutan bahwa
yang minoritas meskipun kecil bisa menjadi bom waktu yang mengganggu kemapanan
kelompoknya. Yang mayoritas sering juga merasa enggan masuk ke dalam yang
minoritas karena berprasangka bahwa yang minoritas akan melihatnya sebagai
bagian dari kelompok penguasa, penindas, dan sebagainya. Demikian pun yang
minoritas mencurigai bahwa yang mayoritas akan selalu berusaha menghancurkan
eksistensi kelompoknya, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kelompoknya
akan dipandang sebagai keanehan oleh yang mayoritas. Kebaikan dari salah satu
kelompok terkadang ditanggapi dengan rasa curiga dan was-was. Embel-embel
negatif sering menguat menjadi stigma yang menakutkan.
Ketika
Serigala tinggal bersama Lembu...
Serigala hanya dapat diam bersama lembu
ketika naluri atau insting keduanya diredam. Serigala bisa diam bersama lembu
ketika ia tidak melihat lembu sebagai sumber makanannya tetapi sebagai partner
sesama anggota Kingdom animalia. Serigala bisa diam bersama lembu ketika lembu
tidak lari dan menjauh ketika serigala datang mendekat. Serigala tidak boleh
memangsa hanya karena ia serigala, demikian pun lembu tidak boleh lari hanya
karena ia adalah lembu.
Kelompok mayoritas dan minoritas pun bisa
mencapai kedamaian yang sesungguhnya bila naluri dasar yang sering hinggap bisa
terus dikikis habis, bila rasio diskursif selalu dikedepankan dalam mencapai
konsensus bersama. Mayoritas dan minoritas hanya bisa hidup dalam kedamaian
yang sesungguhnya bila nilai kemanusiaannya selalu menjadi prioritas pertama
dan utama. Juga, paham mayoritas dan minoritas hendaknya juga ditinjau sebagai
kuantitas demografis semata dan tidak mengidentikkannya dengan kebenaran.
Kebenaran tidak pernah lahir hanya karena banyaknya orang yang meyakininya.
Karena itu, perasaan superioritas akibat jumlah yang lebih tidak bisa menjadi alasan
bagi kita untuk memaksakan kehendak, apalagi dengan jalan kekerasan. Demikian juga rasa inferior yang lahir dari
jumlah yang sedikit tidak bisa membuat kita pasif atau mengalah dalam
mengekspresikan diri secara kreatif. Prasangka atau penilaian diskriminatif
terhadap kelompok lain, meski berangkat pengalaman masa silam, merupakan beban
sejarah yang harus dievaluasi dan dikritisi berdasarkan konteks dan paradigma
berpikir manusia saat itu.
Penggunaan rasio sembari mengutamakan
nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran ini jugalah yang bisa membedakan manusia
dengan skenario serigala lembu di atas. Memang sulit, bahkan tidak mungkin
melihat serigala diam bersama lembu. Serigala diam bersama lembu hanya akan
tetap tinggal sebagai sebuah visi tentang dunia binatang yang diwarnai dengan
kedamaian, ketika tidak ada binatang yang menjadi predator tingkat pertama,
kedua, dan seterusnya sebagaimana dalam pelajaran biologi SD tentang rantai
makanan. Namun, untuk manusia yang dikaruniai dengan kemampuan berpikir hal
tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Kedamaian yang sesungguhnya amat
mungkin tercapai ketika integritas kita sebagai manusia mengatasi identitas
kita sebagai manusia dalam kelompok tertentu. Dengan demikianlah kita tidak
mudah terjebak lagi dalam skenario serigala-lembu, dan baru sungguh berhasil
hidup sebagai manusia. (Inspirasi dari buku: “The Wolf shall dwell with the Lamb”, karya Eric H.F. Law)
No comments:
Post a Comment