Headline Harian
Umum Pos Kupang, edisi 09 November 2015, tampil sedikit berbeda dari biasanya.
Judul yang diangkat membuat siapa saja yang membacanya akan langsung miris dan
prihatin: “Toilet di Kantor Gubernur Jorok”. Investigasi jurnalistiknya
mengungkapkan bagaimana keadaan toilet di beberapa biro di Setda Pemprov. NTT
dan di Kantor Walikota Kupang.
Tidak
perlu kaget sebenarnya dengan Headline
Pos Kupang tersebut. Sebab, bukan lagi merupakan informasi baru bahwa toilet di
kantor-kantor pemerintah atau di tempat-tempat publik di NTT pada umumnya kotor,
jorok, atau tidak terawat. Bagi masyarakat NTT pada umumnya, fenomena tersebut
bukan merupakan sesuatu yang baru. Justru, akan mengagetkan kalau toiletnya
bersih, airnya lancar, dan, apalagi, harum.
Saya
sendiri merasa kaget, bukan karena toilet di Kantor Gubernur jorok, tetapi karena
berita ‘sesederhana’ ini toh bisa
menjadi headline harian terbesar di
NTT ini. Namun, akhirnya, saya bisa mengerti mengapa HU Pos Kupang menganggap
penting fenomena toilet jorok tersebut dan menempatkannya sebagai headline. Saya bisa
memahami kegelisahan Pos Kupang atas rasa nyaman para aparatur sipil negara
terhadap fenomena toilet kotor, berbonus jorok ini.
TOILET JOROK DAN REVOLUSI MENTAL
Ridwan
Kamil, Walikota Bandung, dalam salah satu kesempatan pernah berkata demikian:
“kalau mau lihat karakter bangsa, mudah saja, tinggal lihat toilet umum dan
sepak bolanya. Dua hal ini bisa mewakili karakter dan kepribadian bangsa. Jika
dua hal itu masih bermasalah, maka bangsa tersebut belum memiliki kepribadian
yang baik dan dewasa” (Kompas, 16 Oktober 2015). Terhadap pernyataan Kang Emil
tersebut, saya kira, akan sangat sulit bagi kita untuk memberikan argumen
kontra.
Kegelisahan
Pos Kupang dan pernyataan Kang Emil, tidak berangkat dari semata-mata fenomena
toilet kotor itu sendiri. Bahwa toilet kotor dan jorok mengganggu kenyamanan
urusan buang hajat, itu jelas. Tetapi, bahwa di balik toilet kotor dan jorok,
ada masalah mental dan kepribadian, inilah yang perlu disikapi secara serius.
Toilet jorok hanyalah ekses langsung dan kasat mata dari mental dan kepribadian
yang bermasalah.
Revolusi
Mental yang didengungkan dalam Nawacita Jokowi, saya pikir, tidak hanya
bermuara pada munculnya karakter-karakter unggul seperti kedisiplinan,
kejujuran, anti korupsi, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan
anggaran negara saja, tetapi meliputi semua aspek kehidupan bermasyarakat,
termasuk juga kebersihan. Cita-cita revolusi mental seperti ini perlu kita
dukung, sebab sudah terlalu jauh peradaban bangsa kita tertinggal dibanding
bangsa-bangsa di sekitar kita. Namun apa jadinya slogan yang sedemikian bagus
tersebut, bila tidak mampu diterjemahkan dan dibiasakan sebagai perilaku
sehari-hari oleh para ASN sebagai perpanjangan tangan program-program Jokowi?
TOILET JOROK: TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Ketika
kita menemukan toilet kotor dan jorok, maka kita perlu segera mempertanyakan
mental dan kepribadian orang-orang yang bersentuhan langsung dengan toilet
tersebut. Tidak bisa serta merta kita menuding telunjuk kepada petugas cleaning service sebagai pihak yang
paling bertanggung jawab. Menurut saya, kalau mesti dibuat urutan dari atas ke
bawah, maka yang berada di urutan pertama adalah semua pengguna toilet, lalu
pimpinan yang bertanggung jawab di tempat itu, dan, terakhir, baru petugas cleaning service-nya. Dalam konteks
Kantor Gubernur, yang paling pertama bertanggung jawab adalah para aparatur
sipil negara di tempat tersebut, kemudian para kepala biro, dan terakhir
petugas cleaning service (kalau ada).
Para ASN
ditempatkan pada urutan pertama, karena penggunalah yang paling berkontribusi
terhadap kekotoran dan kejorokan toilet. Bila pengguna, dalam hal ini para ASN
Pemprov. NTT, sadar dan mengerti pentingnya kebersihan, maka, mestinya, tanpa
keberadaan petugas cleaning service
pun toilet akan selalu bersih. Toilet kotor karena para pengguna tersebut masih
seenaknya buang sampah dalam toilet. Tidak ada rasa kesadaran dan tanggung
jawab untuk sungguh-sungguh membersihkan dan menyiram, agar pengguna berikutnya
merasa nyaman menggunakannya. Mentalitas bahwa akan ada petugas yang sudah
digaji untuk membersihkannya, menunjukkan masih tingginya sifat kekanak-kanakan
yang tidak bertanggung jawab, dan perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat.
Para
aparatur sipil negara yang tidak membersihkan toiletnya sendiri mencerminkan ketiadaan
tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan perannya sebagai abdi masyarakat.
Bagaimana mau mengabdi dan melayani masyarakat NTT, kalau mereka yang berada
pada pusat pemerintahan provinsi ini saja belum mampu untuk bertanggung jawab
dan melayani dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya? Tidak heran, dari
tahun ke tahun, cap provinsi miskin dan terbelakang masih melekat kuat dan
menjadi langganan tetap daerah ini. Sebesar apa pun alokasi anggaran untuk
provinsi ini, selama tanggung jawab untuk membersihkan toilet sendiri saja
belum ada, maka selama itu pulalah kita akan tetap menjadi miskin dan
terbelakang.
Selanjutnya,
pada urutan kedua, adalah para pimpinan langsung para ASN tersebut. Toilet
kotor dan jorok mencerminkan tidak adanya pembinaan mental dan kepribadian dari
atasan kepada bawahan. Slogan revolusi mental yang dikumandangkan pemerintahan
Jokowi seperti tidak punya efek apa-apa. Para pimpinan biro dan SKPD masih
terkontaminasi paradigma lama, bahwa keberhasilan pembangunan hanya diukur dari
penyerapan anggaran dan pembangunan fisik, dan bukannya pada pembangunan mental
kepribadian dan semangat pelayanan. Toilet kotor menjadi cerminan bahwa
kemampuan manajerial seorang pimpinan masih sangat timpang.
Pembinaan
mental ASN, kalaupun ada, masih terbatas pada pentingnya perilaku jujur dan
anti korupsi. Padahal, jujur dan anti korupsi berkaitan erat dengan tanggung
jawab menjaga dan membersihkan toilet umum. Jarang sekali saya mendengar
pejabat yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan (toilet) umum. Bisa jadi
karena sudah mempunyai toilet pribadi di ruang kerjanya, sehingga permasalahan
publik tidak mendapat atensi apa-apa. Kepentingan dan kenyamanan pribadi
menjadi tolok ukur pada kepentingan dan kenyamanan orang lain. Sayang.
Terakhir,
pada urutan ketiga, barulah para petugas cleaning
service. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak dari para cleaning service kita yang bekerja
ugal-ugalan. Bekerja ketika diawasi, atau setelah mendapat teguran. Namun, ada
juga yang sudah berusaha melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tetapi
terkendala oleh perbandingan volume tenaga kerja dan toilet yang tidak
seimbang. Dan, yang lebih parah lagi, masih banyak petugas cleaning service
yang merangkap jabatan sebagai office boy
dan penjaga malam, dengan gaji tunggal UMP Provinsi NTT yang jauh di bawah
standar.
APRESIASI UNTUK HARIAN UMUM POS KUPANG
Apresiasi
kepada HU Pos Kupang patut diberikan karena telah mengangkat masalah-masalah
seperti ini. Ada kecenderungan positif dalam pemberitaannya, yang makin sering
mengangkat tema-tema seperti ini sebagai perhatian utamanya. Sebelumnya, Harian
Umum Pos Kupang mengulas tentang praktik pungutan liar dalam pengurusan SIM
yang sudah mendarahdaging di NTT ini.
Seperti
yang saya kemukakan pada awal, bahwa
meski yang diberitakan tersebut sudah menjadi pengetahuan umum masyarakat,
namun pemberitaan Pos Kupang menunjukkan semakin tingginya kepedulian media ini
terhadap urgensi perubahan sosial dalam masyarakat NTT. Pos Kupang semakin
menyadari perannya yang tidak saja sekedar menyampaikan informasi, tetapi juga
dalam membawa perubahan (agent of
changes) masyarakat. Bahwa apa yang disampaikan tersebut berpengaruh
langsung terhadap perubahan sikap dan kebijakan pihak-pihak yang disentil
tersebut, menjadi soal lain. Paling tidak, keluhan-keluhan yang selama ini berada
di bawah permukaan kini terekspos ke ruang publik dan menjadi wacana bersama.
Perubahan, sebagaimana Habermas, terjadi ketika masalah-masalah yang muncul
tersebut diangkat ke ruang publik, didiskusikan, dan dibuat rencana-rencana
aksi (transformative action) untuk
mengatasi masalah-masalah tersebut.
Semoga HU
Pos Kupang semakin getol dengan perannya tersebut. (Tulisan ini telah dimuat di HU Pos Kupang edisi November 2015)
No comments:
Post a Comment