Dalam arti tertentu, politik bisa diartikan sebagai seni
mempengaruhi, memperoleh atau merebut, dan mempertahankan kekuasaan terhadap
sekelompok orang. Politik karenanya merupakan sebuah keniscayaan yang sudah ada
sejak manusia ada dan berelasi membentuk relasi kekuasaan terhadap sesamanya.
Di jaman modern sekarang ini, kekuasaan sering kita terjemahkan sebagai
jabatan, dan sekelompok orang pada umumnya adalah rakyat atau warga negara.
Seseorang dikatakan sebagai politisi handal, apabila ia dapat mempengaruhi
sebanyak-banyaknya orang. Politisi handal selalu mempunyai orientasi untuk
merebut dan mempertahankan kekuasaan .
Untuk menjadi politisi handal, tentu tidak serta merta
menceburkan diri dalam dunia politik tanpa sebuah strategi untuk memenangkan
dan merebut, dan mempertahankan hati rakyat. Setengah abad lalu, pemikir besar
Italia, Niccolo Machiavelli, sudah memberikan rambu-rambu untuk menjadi penguasa
atau politisi handal. Para diktator dan tiran dunia biasanya dapat
mempertahankan kekuasaan mereka dalam jangka waktu lama, karena secara cermat mengikuti
rambu-rambu Machiavelli. Pemikiran tersebut dituangkannya dalam buku berjudul “Il Principe” (The Prince, Sang Penguasa),
yang merupakan hadiah bagi keluarga Medici, penguasa Florence pada masa itu. Il Principe, saya kira, cukup wajar
untuk disebut sebagai kitab suci-nya para penguasa dan politisi sejati.
Il Principe
bukanlah sebuah buku yang berisi gagasan ideal dan utopis Machiavelli tentang
dunia politik, sebagaimana Politea-nya
Plato. Belajar dari sejarah pada masanya dan masa sebelumnya, Il Principe berisi panduan praktis dan
apa adanya tentang bagaimana seorang penguasa dapat mempertahankan
kekuasaannya. Machiavelli berpendapat, ada jarang amat besar antara apa yang
kita bayangkan seharusnya dilakukan, dengan apa yang pada kenyataannya harus
kita lakukan. Kegagalan dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah
karena orang lebih sering membayangkan, terpesona, atau bertindak menurut
idealisme politiknya, daripada bertindak praktis seturut tuntutan situasi.
Tesis dasar yang hendak disampaikan dalam Il Principe, adalah bahwa dalam dunia
politik, segala cara dapat digunakan untuk mencapai tujuan (tujuan menghalalkan
cara). Stabilitas dapat tercipta, bila ada kekuasaan yang kuat. Dan kekuasaan
dapat bertahan, bila penguasa mampu menggunakan berbagai cara untuk
mempertahankan kekuasaannya, terutama dengan menciptakan cinta dan rasa takut
pada warga negaranya. Penguasa ideal adalah penguasa yang dapat mempertemukan
kedua sifat dasar ini, namun dalam kenyataan, dua sifat ini sangat sulit
dipertemukan. Dan apabila harus memilih, maka lebih baik menjadi penguasa yang
ditakuti daripada dicintai (since love and fear can hardly exist
together, if we must choose between them, is safer to be feared than loved). Penguasa yang dicintai
akan lebih rentan terhadap bahaya, daripada penguasa yang ditakuti. Manusia,
demi mengejar kepentingannya, lebih mudah memutuskan ikatan cinta dan
membahayakan penguasanya, daripada membahayakan penguasa sambil membayangkan
kekerasan atau kengerian hukuman yang bakal didapatnya. Rasa takut akan timbul
apabila penguasa dapat bertindak keras, jahat, dan bahkan kejam.
Selain melalui memerintah dengan tangan besi, kelicikan juga
amat penting. Machievelli tidak secara langsung menggunakan kata membunuh, atau
membinasakan, tetapi melenyapkan (eliminate).
Ancaman bisa dilenyapkan dengan cara halus, tidak kentara, dan membuai. Musuh
seolah dijebak ke dalam perangkap, dan tidak tahu bahwa ia sedang diincar
bahaya. Penguasa juga harus dapat menjadi penipu ulung. Ia tidak perlu selalu menepati
janji-janji bagi rakyat, bila memiliki alasan kuat dan dapat diterima. Jika
tidak memiliki dasar kuat, maka penguasa mesti bisa menunjukkan bahwa ia (seolah)
telah menepati janji-janji tersebut.
Perlu digarisbawahi juga, bahwa menimbulkan ketakutan tidak
sama dengan menimbulkan kebencian. Justru, seorang penguasa harus berusaha agar
ia tidak dibenci rakyatnya. Sebab, kebencian rakyat terhadap penguasanya hanya
akan memuluskan lahirnya persekongkolan rahasia dan coup d’état terhadap kepemimpinan yang
legitim. Kebencian rakyat merupakan awal bagi hancurnya sebuah kekuasaan. Kebencian
rakyat dapat dihindari, apabila penguasa tidak bertindak sewenang-wenang atau
tanpa dasar. Kekerasan dan kekejaman harus mempunyai dasar yang kokoh, sehingga
dapat dipahami rakyat bahwa dengan demikian stabilitas negara dapat
dipertahankan.
Dari pemikiran dasar tersebut, terkesan bahwa Machiavelli
mengabaikan moralitas dalam politik. Kekerasan, kekejaman, pembohongan publik,
kelicikan atau tipu daya, dan penciptaan rasa takut seolah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan untuk bisa bertahan dalam dunia politik dan kekuasaan. Dalam
politik, moralitas ditempatkan hanya sebagai alat dan berada di bawah kaki
kepentingan atau keperluan (necessity) untuk
mempertahankan kekuasaan. Penguasa, berdasarkan analisis situasi, selalu dapat
dibenarkan untuk bertindak, baik secara bermoral ataupun tidak bermoral, demi mempertahankan
kekuasaan dan stabilitas negara. Penguasa tidak boleh terikat pada
aturan-aturan moral, bukan karena paham relativisme moral misalnya, tetapi
karena situasi menuntut demikian. Atau, dalam kata-kata Machiavelli sendiri,
penguasa tidak perlu bertindak secara terhormat dalam setiap langkahnya, sebab
pasti ia akan kecewa karena berada di antara begitu banyak orang yang tidak
berjiwa ksatria. Karena itu, kalau seorang penguasa ingin mempertahankan
pemerintahannya, ia harus belajar bertindak secara tidak ksatria, dan memanfaatkannya
atau tidak memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan.
Penilaian moral terhadap cara-cara mempertahankan kekuasaan,
dengan demikian, merupakan sesuatu yang tidak relevan, sebab menekankan pada
satu hal akan mengganggu hal lain. Moralitas dan politik bermain dalam dunia
berbeda, keduanya tidak bisa menjadi pegangan satu sama lain. Politik dan
kekuasaan selalu berkaitan dan tidak bisa terlepas dari cara-cara
mempertahankan kekuasaan. Menekankan moralitas, bukan saja mengingkari hakikat
politik, tetapi juga akan mengancam kekuasaan dan stabilitas. Dan bagi
Machiavelli, stabilitas negara adalah tujuan tertinggi, dan lebih penting
daripada sekedar mengikuti kaidah atau aturan moral.
Membaca “Sang Penguasa”, setidaknya memberikan pemahaman
tindak-tanduk para politisi dan penguasa. Setiap orang boleh tidak setuju, bahkan
mengecam Machiavelli, tetapi setidaknya kita bisa menemukan banyak fakta
lapangan sebagaimana yang dibeberkannya. Atau, paling tidak mata kita bisa
sedikit terbuka bahwa mereka yang terjun dalam dunia politik dan berhasil mempertahankan
kekuasaannya tidak bisa tidak mengikuti satu atau beberapa anjuran dasar
Machiavelli. Penguasa yang terlalu jujur atau bermoral biasanya tidak akan
bertahan lama. Kalau kita mengatakan bahwa politik itu kotor, memang
demikianlah semestinya politik itu menurut Machiavelli. Kalau boleh saya
simpulkan: “kebaikan dalam politik adalah menjadi politisi kotor”.
Saya ingin sedikit mengaitkan dengan konteks negara kita. Yang umum terjadi, kita
menemukan begitu banyak kelicikan dan pembohongan oleh para politisi kita, yang
dimainkan berulang-ulang, entah itu itu mempertahankan kekuasaan dan jabatan
politis, merebut kursi di dewan, atau sekedar membela kepentingan
fraksi/partai. Mengikuti anjuran Machiavelli,
kita tidak bisa secara hitam putih menilai tindakan para politisi tersebut
dengan ukuran moral. Saya juga tidak hendak membuat penilaian moral lebih
lanjut atas sikap para politisi dan penguasa di negeri ini.
Berbeda dari anjuran Machiavelli, para politisi kita kelihatan
sudah terang-terangan membohongi dan mengingkari kehendak rakyat banyak. Saya sendiri tidak tahu apakah ini
merupakan bagian dari grand design kelicikan politisi kita, ataukah sekedar tindakan
membabibuta. Namun, kalau sekedar tindakan membabi buta, yang berpatokan pada
emosi daripada logika politik, maka
peringatan Machiavelli ini hendaknya diingat baik-baik: bahwa penguasa dan
politisi yang bertindak tanpa alasan
dan dasar yang kokoh,
dan yang terang-terangan membohongi rakyatnya, hanya akan memunculkan kebencian.
Dan kebencian rakyat, menurut Machiaevelli, merupakan ancaman terbesar bagi
langgengnya sebuah kekuasaan politik. Kita lihat saja, apakah para politisi
kita betul-betul politisi handal, atau politisi untung-untungan, yang
‘kekuasaan-nya’ ke depan akan juga untung-untungan.
No comments:
Post a Comment