Saturday, December 5, 2015

The Name of the Rose



Novel “The Name of The Rose”, buah karya Umberto Eco, aslinya ditulis dalam bahasa Italia dengan judul “Il Nome della Rosa”. Dari versi Inggris, novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tim Penerjemah Jalatustra dan kemudian diterbitkan pada bulan September 2000. Dilihat dari rentang waktunya, boleh dikatakan bahwa permunculannya ke dalam versi bahasa Indonesia cukup lama yaitu sekitar dua puluh tahun. Namun meski sudah lama terbit, di negeri asalnya sendiri novel ini masih terus dibaca sehingga tak heran bila novel yang berlatar belakang abad pertengahan ini masuk dalam kategori “best seller” di Italia, Jerman, dan Prancis.

Tema pokok novel setebal 620 halaman ini adalah seputar pemecahan kasus pembunuhan beberapa biarawan di sebuah biara Benediktin. Untuk memecahkan misteri tersebut, sang kepala biara mengundang seorang biarawan Fransiskan yang cukup terkenal dalam memecahkan kasus-kasus pelik. Dengan dibantu oleh muridnya Adso, Br. William, demikian nama biarawan Fransisikan itu, berusaha memecahkan sekian banyak kabut teka-teki yang menyelubungi  kasus tersebut. Sambil mencari jawaban atas teka-teki tersebut, aroma kematian bukannya berakhir. Satu demi satu biarawan menemui ajalnya secara mengenaskan dengan cara kematian menurut urutan tujuh terompet Apocalypse dalam kitab Wahyu. Ada biarawan yang mati karena dijatuhkan dari menara biara yang tinggi, ada yang mayatnya ditemukan dalam drum anggur, ada yang ditemukan dalam bak air, ada juga yang mati keracunan dalam ruang pengobatan. Kecemasan meliputi kehidupan biara. Para biarawan saling mencurigai satu sama lain: satu dari antara mereka pastilah pembunuh berdarah dingin itu.

Ikan yang busuk tak dapat disimpan lama,  pada akhirnya kasus pembunuhan yang memakan banyak korban berhasil menunjukkan titik terang. Bruder William yang memiliki kemampuan daya analisis begitu kuat berkesimpulan bahwa kematian para biarawan ada kaitannya dengan sebuah buku karya Aristoteles yang disembunyikan dalam perpustakaan biara. Untuk menghentikan dan memutuskan rantai kematian, buku tersebut harus ditemukan. Tetapi justru di sinilah letak kesulitannya. Kecuali pustakawan, aturan biara dengan keras melarang para biarawan untuk masuk ke dalam perpustakaan biara yang terkenal paling lengkap pada masa itu. Apalagi perpustakaan itu berbentuk labirin. Siapa saja yang mencoba masuk ke dalam perpustakaan tanpa menguasai rahasia labirin dipastikan akan tersesat. Namun justru inilah yang memberikan nuansa ketegangan bagi para pembaca. Usaha br. William  untuk masuk ke dalam perpustakaan tanpa diketahui oleh para biara, caranya memecahkan rahasia labirin, dan analisa kasus kematian menurut logika Aristoteles menyuguhkan pada setiap pembaca ketegangan demi ketegangan.

Selain ketegangan, novel ini juga diramu dan diselipi dengan berbagai persoalan pelik  teologis pada abad itu. Dapat kita lihat bagaimana pertentangan dan perdebatan teologis antara dua ordo besar dalam gereja yaitu antara golongan Fransiskan dan golongan Dominikan. Golongan yang satu menyudutkan dan meremehkan spiritualitas golongan yang lain. Yang satu melihat dirinya sebagai yang benar dan yang lain sebagai yang sesat. Sikap saling meremehkan dan menghina itu bahkan kemudian misalnya merembes kepada sikap saling mencela orang kudus yang berasal dari kedua Ordo besar itu. Kaum Fransiskan, misalnya mengatakan bahwa Thomas Aquinas sebenarnya hanyalah seorang pendek gemuk yang diangkat Paus menjadi santo hanya untuk merebut dukungan dan simpati kaum Dominikan. Golongan Dominikan pun tidak mau kalah. Mereka mengatakan bahwa sekian mukjizat yang dibuat Fransiskus Asisi  tidak lain dikarenakan ia memiliki ilmu tenung sebagaimana para ahli tenung dan kaum pendosa masa itu.

Pertentangan teologis tidak saja terjadi antara ordo-ordo besar, tetapi juga di dalam kalangan para biarawan sendiri. Salah satu hal yang menarik adalah menyangkut “tertawa”. Beberapa biarawan menyatakan bahwa tertawa itu baik. Para ahli teologi sendiri mengatakan bahwa tertawa adalah berguna untuk manusia. Sama seperti mandi, tertawa adalah obat yang menyenangkan hati atas penderitaan tubuh dan khususnya atas kesedihan. Tertawa juga adalah tanda rasionalitas manusia yang membedakannya dengan hewan. Sementara biarawan lain dengan tegas menolak pentingnya tertawa. Mereka mengutip St. Yohanes Krisostomus, si mulut emas, yang mengatakan bahwa Yesus tidak tertawa. Juga dalam Injil sendiri tidak tertulis bahwa Yesus pernah tertawa. Menurut mereka orang yang tertawa adalah penyembah berhala. Dengan tertawanya, orang tolol berkata dalam hatinya: Deus non est (Tuhan tidak ada). Orang yang tertawa tidak percaya dengan apa yang ditertawainya. Tertawa juga merupakan tanda ketidaktahuan. Tertawa pada kejahatan berarti tidak mempersiapkan orang untuk melawan kejahatan itu, sedangkan tertawa pada kebaikan sama saja dengan menyangkal kekuatan kebaikan itu. Jiwa menjadi tenang jika hanya merenungkan kebenaran dan senang dengan kebajikan yang telah dicapai. Karena itu kebenaran dan kebajikan bukanlah untuk ditertawakan sebab tertawa menyebabkan keragu-raguan.

Selain persoalan pembunuhan dan teologis, buah karya Eco masih diselipi dengan banyak hal menarik lainnya. Novel ini menyuguhkan pula kepada pembaca pemandangan yang memikat ke dalam sebuah zaman dengan berbagai kondisi sulitnya, perseteruan politik dan filosofinya, mitologi, sains, masakan, pengobatan, dan ilmu sihir, demikian komentar The London Times Literary Supplement. Karenanya wajar bila novel ini masuk dalam kategori bermutu dan dianjurkan untuk dibaca bagi mereka yang telah jenuh dengan roman/novel picisan yang tidak ada nilai edukasinya.

No comments:

Post a Comment