Novel “The Name of The Rose”, buah
karya Umberto Eco, aslinya ditulis dalam bahasa Italia dengan judul “Il Nome
della Rosa”. Dari versi Inggris, novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia oleh Tim Penerjemah Jalatustra dan kemudian diterbitkan pada
bulan September 2000. Dilihat dari rentang waktunya, boleh dikatakan bahwa
permunculannya ke dalam versi bahasa Indonesia cukup lama yaitu sekitar dua
puluh tahun. Namun meski sudah lama terbit, di negeri asalnya sendiri novel ini
masih terus dibaca sehingga tak heran bila novel yang berlatar belakang abad
pertengahan ini masuk dalam kategori “best seller” di Italia, Jerman, dan
Prancis.
Tema pokok novel setebal 620 halaman
ini adalah seputar pemecahan kasus pembunuhan beberapa biarawan di sebuah biara
Benediktin. Untuk memecahkan misteri tersebut, sang kepala biara mengundang
seorang biarawan Fransiskan yang cukup terkenal dalam memecahkan kasus-kasus
pelik. Dengan dibantu oleh muridnya Adso, Br. William, demikian nama biarawan
Fransisikan itu, berusaha memecahkan sekian banyak kabut teka-teki yang
menyelubungi kasus tersebut. Sambil
mencari jawaban atas teka-teki tersebut, aroma kematian bukannya berakhir. Satu
demi satu biarawan menemui ajalnya secara mengenaskan dengan cara kematian
menurut urutan tujuh terompet Apocalypse dalam kitab Wahyu. Ada biarawan yang
mati karena dijatuhkan dari menara biara yang tinggi, ada yang mayatnya
ditemukan dalam drum anggur, ada yang ditemukan dalam bak air, ada juga yang
mati keracunan dalam ruang pengobatan. Kecemasan meliputi kehidupan biara. Para
biarawan saling mencurigai satu sama lain: satu dari antara mereka pastilah
pembunuh berdarah dingin itu.
Ikan yang busuk tak dapat disimpan
lama, pada akhirnya kasus pembunuhan
yang memakan banyak korban berhasil menunjukkan titik terang. Bruder William
yang memiliki kemampuan daya analisis begitu kuat berkesimpulan bahwa kematian
para biarawan ada kaitannya dengan sebuah buku karya Aristoteles yang
disembunyikan dalam perpustakaan biara. Untuk menghentikan dan memutuskan
rantai kematian, buku tersebut harus ditemukan. Tetapi justru di sinilah letak
kesulitannya. Kecuali pustakawan, aturan biara dengan keras melarang para
biarawan untuk masuk ke dalam perpustakaan biara yang terkenal paling lengkap
pada masa itu. Apalagi perpustakaan itu berbentuk labirin. Siapa saja yang
mencoba masuk ke dalam perpustakaan tanpa menguasai rahasia labirin dipastikan
akan tersesat. Namun justru inilah yang memberikan nuansa ketegangan bagi para
pembaca. Usaha br. William untuk masuk
ke dalam perpustakaan tanpa diketahui oleh para biara, caranya memecahkan
rahasia labirin, dan analisa kasus kematian menurut logika Aristoteles
menyuguhkan pada setiap pembaca ketegangan demi ketegangan.
Selain ketegangan, novel ini juga
diramu dan diselipi dengan berbagai persoalan pelik teologis pada abad itu. Dapat kita lihat
bagaimana pertentangan dan perdebatan teologis antara dua ordo besar dalam
gereja yaitu antara golongan Fransiskan dan golongan Dominikan. Golongan yang
satu menyudutkan dan meremehkan spiritualitas golongan yang lain. Yang satu
melihat dirinya sebagai yang benar dan yang lain sebagai yang sesat. Sikap
saling meremehkan dan menghina itu bahkan kemudian misalnya merembes kepada
sikap saling mencela orang kudus yang berasal dari kedua Ordo besar itu. Kaum
Fransiskan, misalnya mengatakan bahwa Thomas Aquinas sebenarnya hanyalah
seorang pendek gemuk yang diangkat Paus menjadi santo hanya untuk merebut dukungan
dan simpati kaum Dominikan. Golongan Dominikan pun tidak mau kalah. Mereka
mengatakan bahwa sekian mukjizat yang dibuat Fransiskus Asisi tidak lain dikarenakan ia memiliki ilmu
tenung sebagaimana para ahli tenung dan kaum pendosa masa itu.
Pertentangan teologis tidak saja
terjadi antara ordo-ordo besar, tetapi juga di dalam kalangan para biarawan
sendiri. Salah satu hal yang menarik adalah menyangkut “tertawa”. Beberapa
biarawan menyatakan bahwa tertawa itu baik. Para ahli teologi sendiri
mengatakan bahwa tertawa adalah berguna untuk manusia. Sama seperti mandi,
tertawa adalah obat yang menyenangkan hati atas penderitaan tubuh dan khususnya
atas kesedihan. Tertawa juga adalah tanda rasionalitas manusia yang
membedakannya dengan hewan. Sementara biarawan lain dengan tegas menolak
pentingnya tertawa. Mereka mengutip St. Yohanes Krisostomus, si mulut emas,
yang mengatakan bahwa Yesus tidak tertawa. Juga dalam Injil sendiri tidak
tertulis bahwa Yesus pernah tertawa. Menurut mereka orang yang tertawa adalah penyembah
berhala. Dengan tertawanya, orang tolol berkata dalam hatinya: Deus non est (Tuhan tidak ada). Orang
yang tertawa tidak percaya dengan apa yang ditertawainya. Tertawa juga
merupakan tanda ketidaktahuan. Tertawa pada kejahatan berarti tidak mempersiapkan
orang untuk melawan kejahatan itu, sedangkan tertawa pada kebaikan sama saja
dengan menyangkal kekuatan kebaikan itu. Jiwa menjadi tenang jika hanya
merenungkan kebenaran dan senang dengan kebajikan yang telah dicapai. Karena
itu kebenaran dan kebajikan bukanlah untuk ditertawakan sebab tertawa
menyebabkan keragu-raguan.
No comments:
Post a Comment